modeel pembelajaran.blogspot.com,
A. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DARI TEORI BELAJAR KOGNITIFISME
1. Teori Belajar Kognitivisme
Pada teori belajar kognitivisme, belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk memperoleh pemahaman. Tujuan dan tingkah laku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.
Model pembelajaran berdasar teori kognitif memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
2. Model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar kognitifisme
a. Model pembelajaran inkuiri
1) Pengertian
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah. Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, meng-evaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya. (Depdikbud, 1997). Menurut Sanjaya (2009), penggunaan inkuiri harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu berorientasi pada pengembangan intelektual (pengembangan kemampuan berfikir), prinsip interaksi (interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan), prinsip bertanya (guru sebagai penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning how to think), prinsip keterbukaan (menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan). Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama Model Pembelajaran Inkuiri:
• Model inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya peserta didik jadikan subyek belajar.
• Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan. Model inkuiri ini menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai sumber belajar yang menjelaskan saja.
• Tujuan dari penggunaan model inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian proses mental.
Model Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
• Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
• Bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
• Proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
• Akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan dan kemampuan berpikir.
• Siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
• Guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
2) Keunggulan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri
a) Keunggulan Model Pembelajaran Inkuiri
Roestiyah (1991:76) mengemukakan bahwa ada beberapa keunggulan dari model inkuiri yaitu:
i. Dapat membentuk dan mengembangkan konsepsi pada diri siswa,sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep atau ide-ide yang lebih baik.
ii. Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
iii. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
iv. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesis.
v. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
vi. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
vii. Siswa dapat menghindari cara-cara yang tradisional.
viii. Memberi kebebasan siswa untuk berpikir sendiri.
ix. Situasi proses belajar lebih terangsang.
x. Memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi.
b) Kelemahan model Pembelajaran Inkuiri
Di samping memiliki keunggulan, model ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
i. Jika model ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
ii. Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
iii. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
b. Model pembelajaran learning cycle 5 face ( LC 5E)
1) Pengertian Learning Cycle
Learning cycle merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), berupa rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif (Fajaroh dan Dasna : 2007 ). Model pembelajaran Learning Cycle dikembangkan dari teori perkembangan kognitif piaget.
Model belajar ini menyarankan agar proses pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif sehingga proses asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur kognitif siswa. Bila terjadi proses konstruksi pengetahuan dengan baik maka siswa akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajarinya.
Implementasi Learning Cycle dalam pembelajaran menempatka guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan), dan evaluasi (Fajaroh dan Dasna, 2007)
2) Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Learning Cycle
a) Kelebihan
i. Memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang pembelajaran
ii. Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran
iii. Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa,
iv. Pembelajaran menjadi lebih bermakna
b) kekurangan
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Soebagio, 2000):
i. efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran
ii. menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran
iii. memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi
iv. memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.
c. Model pembelajaran berbasis masalah
1) Pengertian
Ciri utama pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antara disiplin ilmu, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya atau peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyak kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah antara lain bertujuan membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah.
2) Kelebihan dan kekurangan
a) Kelebihan:
i. Siswa dilibatkan dalam kegiatan belajar sehingga pengetahuan benar-benar diserap dengan baik
ii. Jika dilakukan dalam kelompok maka siswa dapat dilatih untuk saling bekarjasama
iii. Dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber untuk menyelesaikan masalah dan dengan demikian dapat meningkatkan pemahaman siswa
b) Kekurangan:
i. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai
ii. Membutuhkan banyak waktu
iii. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan model ini
B. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DARI TEORI BELAJAR BEHAFIORISME
1. Teori Belajar Behaviorisme
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat.Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
2. Model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar Behaviorisme
a. Model Pembelajaran Teacher Centered Learning (Tcl)
1) Pengertian
Sistem pembelajaran pada hampir semua sekolah di Indonesia masih bersifat satu arah, yaitu pemberian materi oleh guru. Sistem pembelajaran tersebut dikenal dengan model Teacher Centered Learning (TCL), yang ternyata membuat siswa pasif karena hanya mendengarkan kuliah sehingga kreativitas mereka kurang terpupuk atau bahkan cenderung tidak kreatif. Pada sistem pembelajaran model TCL, guru lebih banyak melakukan kegiatan belajar-mengajar dengan bentuk ceramah (lecturing). Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah, siswa sebatas memahami sambil membuat catatan, bagi yang merasa memerlukannya.
Guru menjadi pusat peran dalam pencapaian hasil pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya sumber ilmu. Model ini berarti memberikan informasi satu arah karena yang ingin dicapai adalah bagaimana guru bisa mengajar dengan baik sehingga yang ada hanyalah transfer pengetahuan. Perbaikan untuk model pembelajaran TCL telah banyak dilakukan, antara lain mengkombinasikan lecturing dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Walaupun sudah ada perbaikan, tetapi hasil yang dihasilkan masih dianggap belum optimal. Pola pembelajaran guru aktif dengan siswa pasif ini mempunyai efektivitas pembelajaran rendah. Hal tersebut setidaknya tampak pada 2 hal. Pertama, guru sering hanya mengejar target waktu untuk menghabiskan materi pembelajaran. Kedua, pada saat-saat mendekati ujian, di mana aktivitas mahasiswa “berburu” catatan maupun literatur kuliah, serta aktivitas belajar mereka mengalami kenaikan yang sangat signifikan, namun turun kembali secara signifikan pula setelah ujian selesai.
Implikasi lain dari sistem pembelajaran TCL adalah guru kurang mengembangkan bahan kuliah dan cenderung seadanya (monoton), terutama jika mahasiswanya cenderung pasif dan hanya sebagai penerima transfer ilmu. Guru mulai tampak tergerak untuk mengembangkan bahan kuliah dengan banyak membaca jurnal atau download artikel hasil-hasil penelitian terbaru dari internet, jika mahasiswanya mempunyai kreativitas tinggi, banyak bertanya, atau sering mengajak diskusi. Namun, karena sistem pembelajaran TCL pada akhirnya “lebih mengkondisikan” mahasiswa pasif dan hanya sebagai penerima transfer saja, maka guru pun menjadi kurang termotivasi untuk mengembangkan bahan kuliahnya.
TCL merupakan suatu sistem pembelajaran dimana siswa hanya mendapatkan materi dari satu sumber saja yaitu guru. Di sistem ini selain siswa cenderung pasif karena cenderung hanya mendengar kuliah saja, guru juga kurang mengembangkan bahan kuliah dan cenderung seadanya, monoton.
2) Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan:
i. Informasi dapat diberikan kepada sejumlah siswa dalam waktu yang singkat;
ii. Pengajar mengendalikan organisasi, materi, dan waktu sepenuhnya;
iii. Menyediakan forum bagi pakar untuk menguatarakan pengalamannya;
iv. Apabila kuliah diberikan dengan baik maka dapat menimbulkan inspirasi dan stimulasi bagi para siswa;
v. Pada umumnya memungkinkan untuk menggunakan metode assessment secara cepat dan mudah.
Kekurangan:
i. Pengajar mengendalikan pengetahuan sepenuhnya;
ii. Terjadi komunikasi satu arah;
iii. Tidak kondusif untuk terjadinya critical thinking;
iv. Mendorong terjadinya pembelajaran secara pasif;
v. Untuk sebagian besar siswa bukan merupakan cara pembelajaran yang optimal.
3. Model-Model Pembelajaran Berdasarkan Teori Belajar Konstruktivisme
4. Model-Model Pembelajaran Berdasarkan Teori Belajar Humanisme
Komentar
Posting Komentar